blog
25%
beranda / blog / konsisten itu berat, jenderal!

Konsisten Itu Berat, Jenderal!

Oleh Admin Pada 21 Agustus 2026 0 Komentar
Konsisten Itu Berat, Jenderal!

Fiyuh, sudah lebih dari tiga bulan blog ini online dan baru ada tiga biji artikel yang terbit. Padahal niat awal saya bikin blog ini adalah untuk membangun sematjam portfolio agar orang-orang bisa melihat contoh tulisan saya. Selain itu, saya juga ingin melatih jari dan otak agar lebih lancar saat memproduksi tulisan.
Sayangnya, cita-cita mulia itu masih belum terwujud. Karena hingga saat ini saya masih merasa kesulitan untuk konsisten membuat tulisan.

Konsisten Adalah Kunci

Konsisten Adalah Koentji

Jika kita renungi lebih dalam, sebenarnya hampir semua hal yang terjadi dalam kehidupan ini adalah buah dari sebuah konsistensi. Sebagai contoh, orang-orang yang ahli dalam bidang atau disiplin ilmu tertentu adalah hasil konsisten belajar selama bertahun-tahun. Agak sulit rasanya membayangkan ada orang yang ahli mengemudikan mobil hingga melakukan parkir pararel hanya dengan sekali menonton video tutorial di Youtube.

Selain dalam hal positif, konsisten juga berlaku dalam hal yang negatif. Sebagai contoh, obesitas alias kegemukan terjadi (salah satunya, kalau saya tidak salah) karena konsumsi makanan yang berlebihan dalam jangka waktu tertentu. Terutama makanan atau minuman yang mengandung kadar lemak dan gula yang tinggi. Dan hanya sekali mengonsumsi segelas besar boba yang tinggi akan kandungan gula tidak akan membuat berat badan Anda langsung naik seketika dan menjadi obesitas.

Semua hal terjadi karena kita konsisten melakukan sesuatu hingga menjadi sebuah kebiasaan. Konsisten melakukan kebiasaan baik (seperti belajar, membersihkan rumah, membaca buku, dll) akan berbuah baik. Pun sebaliknya, konsisten melakukan kebiasaan buruk (seperti mengonsumsi makanan secara berlebihan, malas bergerak, scrolling media sosial berlebihan) juga akan mengantarkan kita pada hasil yang buruk. Sehingga rasanya tak berlebihan jika mengatakan bahwa "Konsisten adalah koentji".

Konsisten Itu Berat

Konsisten Adalah Berat

Sayangnya, konsisten (melakukan hal yang baik) itu berat. Setidaknya itulah yang sering kali saya rasakan. Sudah banyak hal yang saya lakukan seperti membuat to do list, melakukan pomodoro, dan hal-hal lain yang diajarkan influencer produktivitas di media sosial, tapi tetap saja saya masih kesulitan untuk rutin melakukan hal yang baik hingga menjadi sebuah kebiasaan.

Seolah selalu saja ada godaan untuk berhenti mengerjakan kebiasaan baik. Tadinya dalam hal ini saya ingin menyalahkan Setan. Tapi setelah dipikir-pikir, yang menggoda untuk berhenti mengerjakan kebiasaan baik (bahkan beralih ke mengerjakan kebiasaan buruk) adalah diri saya sendiri.

Ini Penyebabnya

Yang Bikin Saya Sulit Konsisten

Karena setelah merenung dan bermeditasi di Kamar Mandi, saya menemukan alasan yang menghambat saya untuk konsisten membangun kebiasaan baik (dalam hal ini menulis artikel).

Kurang Imbalan

Sebagai makhluk yang maha pamrih, manusia umumnya hampir selalu menginginkan imbalan positif atas segala perbuatannya. Bahkan hanya sekadar ucapan "Terima kasih." itu sudah bisa dianggap sebagai imbalan.

Kabar buruknya, mayoritas kebiasaan baik (yang saya dan mungkin Anda lakukan) menawarkan imbalan yang besar, namun baru bisa dinikmati dalam jangka panjang (setelah konsisten dan jadi kebiasaan), sehingga diri saya menganggap imbalan tersebut sebagai sesuatu yang kurang menarik. Justru kebiasaan buruklah yang memberi imbalan instan sehingga terlihat lebih menggiurkan.

Sebagai contoh, saat scrolling video-video pendek alias reels di media sosial, otak saya langsung memproduksi 'dopamin' (kalau tidak salah sematjam hormon kesenangan) secara instan. Intinya, si Kampret Dopamin ini ngasih efek senang, bahagia, dan kecanduan. Hal ini semakin diperparah dengan konsep reels yang membuat saya penasaran konten seperti apa yang akan muncul selanjutnya. Akibatnya, saya terjebak dalam gulungan reels tak berujung selama berjam-jam.

Banyak Tantangan

Scrolling reels juga tidak membutuhkan tenaga, tidak menuntut saya untuk berpikir, bahkan saya tidak perlu beranjak sedikit pun. Di manapun saya berada, selama ada internet, saya bisa langsung mengonsumsi reels dan memberi makan dopamin di otak saya.

Berbeda dengan menulis artikel mengharuskan saya untuk duduk di depan laptop, berpikir, dan menggerakkan hampir sepuluh jari di atas keyboard dan trackpad. Dengan usaha yang lebih banyak, imbalan yang saya dapat dari menulis artikel justru lebih sedikit. Menulis sebuah artikel mungkin tidak akan mendatangkan banyak pengunjung, tidak akan membuat saya kaya, bahkan sekadar membangkitkan dopamin pun tidak.

Imbalan dari menulis artikel (mungkin) baru bisa saya dapatkan setelah konsisten menulis 100, 500, bahkan 1000 artikel. Setelah search engine seperti Google "ngeh", mengindeks artikel saya, dan memberikannya posisi di hasil penelusuran.

Dengan usaha yang lebih sedikit dan imbalan yang lebih cepat dinikmati, maka alam bawah sadar saya secara sadar memutuskan bahwa menonton reels jauh lebih menarik dari pada menulis artikel.

Mengejar Kesempurnaan

Saya (dan mungkin setiap orang di dunia ini) sangat mendambakan kesempurnaan, termasuk saat menulis sebuah artikel. Saya ingin setiap huruf tersusun secara sempurna, tanpa cacat dan tanpa cela. Untuk mencapai hal tersebut, saya sering merasa tidak puas atas hasil artikel yang sudah ditulis. Kadang ada kalimat yang masih terasa kurang enak dibaca, tanda baca yang tidak pada tempatnya, dan perintilan-perintilan lain yang membuat saya harus terus melakukan "perbaikan".
Saking seringnya, waktu yang saya habiskan untuk melakukan "perbaikan" pada satu artikel mungkin jauh lebih banyak dibandingkan untuk membuat artikel itu sendiri. Karena terlalu banyak melakukan revisi pada satu artikel, energi saya keburu habis dan jadi males bikin artikel lain.

Saya lupa satu hal bahwa manusia bukan tempatnya bagi kesempurnaan. Justru manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Dalam hal-hal tertentu, melakukan kesalahan adalah tidak apa-apa.
Jadi, tidak apa-apa salah ketik (alias typo), tidak apa-apa kalau ada kata atau kalimat yang belum pas, ada tanda baca yang tidak pada tempatnya, atau kesalahan-kesalahan lainnya. Justru kesalahan itu adalah salah satu tanda bahwa saya adalah manusia.

Ini Solusinya

Solusi Biar Konsisten

Sebenarnya belum ada, sih 😅

Jujur, saya belum dapat solusi yang ampuh untuk mengatasi masalah ini. Mungkin kudu banyak baca buku tentang produktivitas kali, ya. Kalau Anda punya rekomendasi, silakan sampaikan di kolom komentar 😉

Meski demikian, karena sudah tau penyebabnya, saya sudah punya gambaran mengenai apa yang akan saya lakukan untuk mengatasi permasalahan ini.

Pertama, saya akan mengidenfikasi terlebih dahulu semua hal yang bisa mengalihkan perhatian dari menulis artikel. Seperti reels di media sosial, story WhatsApp gebetan, hingga promo di aplikasi belanja online.

Kedua, saya akan menjauhkan diri dari godaan-godaan yang sudah diidentifikasi sebelumnya. Karena hampir semua "setan" ini berada di handphone dan saya menulis di laptop, seharusnya bisa lebih mudah. Doakan saja, ya.
Tinggal matikan koneksi internetnya lalu simpan di tempat yang tidak mudah terlihat.

Ketiga, saya akan menulis di waktu tertentu saat fokus sedang tinggi-tingginya, seperti saat malam bulan purnama. Becanda :v
Tapi serius, dalam satu hari saya merasa lebih fokus dan lebih berenergi pada saat setelah subuh sampai sebelum matahari terbit, dan setelah magrib sampai isya. Entahlah apakah Anda juga merasakan hal yang sama atau tidak.

Keempat, saya akan memaksakan diri untuk menulis dan menerbitkan satu artikel setiap hari. Karena imbalannya tidak instan, saya akan coba memberikan sematjam "sugesti" kepada diri sendiri dengan imbalan besar yang akan didapatkan setelah konsisten menulis. Saya akan membayangkan blog ini penuh dengan tulisan, pengunjungnya banyak, dan syukur-syukur kalau bisa menghasilkan.

Sementara imbalan jangka pendeknya, anggap saja setiap satu artikel yang berhasil terbit sebagai sebuah pencapaian kecil yang tetapberhak dihadiahi sesuatu seperti satu episode anime atau 10 menit bermain Subway Surfers.

Bagian ini mungkin akan menjadi yang paling sulit, terutama di minggu-minggu awal, karena saya harus melawan diri sendiri. Jadi, kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang. Diri yang satu atau yang satunya.

Kelima, saya akan mencoba melupakan kesempurnaan, menurunkan standar, dan lebih banyak memberikan toleransi kepada kesalahan. Daripada membuang waktu untuk menyempurnakan satu artikel agar luput dari kesalahan, lebih baik menghemat waktu dengan belajar dari kesalahan untuk menyempurnakan artikel-artikel selanjutnya.

Ya, saya rasa unek-unek di kepala sudah dikeluarkan semua. Jadi mungkin sampai di sini dulu ocehan kali ini. Terima kasih karena Anda sudah membaca sampai sini. Jika ada pertanyaan, kritik, saran, atau sekadar ocehan, silakan sampaikan di kolom komentar. Selama bukan sepam atau jualan, pasti bakalan saya acc & saya balas.

Akhir kata, Bismillah semoga bisa 😌

kategori artikel
bagikan artikel ini:

Komentar (0)