Judul postingan ini mungkin terasa lebay dan berlebihan, tapi itulah yang saya rasakan saat berbaur dalam keramaian belakangan ini. Kebetulan belakangan ini di tempat saya memang lagi banyak acara yang dihadiri banyak orang. Mulai dari layar tancap, wayang golek, dangdutan, dan masih banyak lagi.
Seperti biasa, dalam acara-acara seperti itu saya kurang suka berada terlalu dekat dengan panggung. Suara dentuman sound system yang keras sering kali membuat saya merasa kurang nyaman. Jadi, alih-alih merapat ke dekat panggung sebagai pusat keramaian, saya lebih suka berdiri di pinggiran dengan kedua tangan terlipat di dada seperti Garra dari Desa Suna.
Selain lebih nyaman, dengan berada jauh dari panggung saya juga memiliki visibilitas yang lebih luas sehingga bisa melihat setiap orang dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang sibuk melayani pembeli, sibuk memilih barang, disibukkan oleh anaknya, hingga yang disibukkan oleh gawainya sendiri.
Ya, sudah menjadi rahasia umum kalau saat ini tingkat ketergantungan (bahkan kecanduan) manusia terhadap gawai seperti ponsel pintar sudah mencapai tahap yang sangat parah. Manusia hampir tidak bisa berhenti menatap layar smartphone bahkan untuk satu menit. Selalu saja ada alasan untuk menekan tombol power dan membuka kunci layar. Entah itu untuk sekadar melihat pesan yang masuk ke WhatsApp, atau mengecek konten di beranda akun media sosial.
Akibatnya, dari ratusan orang yang hadir pada malam itu mungkin hanya satu atau dua orang saja yang benar-benar hadir. Sisanya, hanya hadir secara fisik namun jiwanya melanglang buana entah ke mana. Mungkin hanya Abah-abah dan Emak-emak (baca: Kakek-kakek dan Nenek-nenek) saja yang benar-benar menikmati pertunjukan.
Dengan tubuh yang sudah renta mereka berdiri, menonton dengan antusias, sambil sesekali berinteraksi dengan penonton lain (bahkan dengan orang yang tidak mereka kenal). Sementara mayoritas "golongan muda" masih sibuk dengan gadget-nya. Mulut mereka berbicara, tapi tidak dengan matanya. Mata mereka juga melihat, tapi melalui lensa kamera.
Ah, terlalu lebay filosofis. Intinya, mereka tuh ngobrol tapi matanya fokus ke layar hp. Mereka juga nonton, tapi lewat layar hp karena sambil ngelive. Aneh banget, kan? Padahal mah kalau ujung-ujungnya cuma nonton TikTok, ngapain harus datang ke keramaian segala. Toh di rumah juga bisa. Atau kalau ujung-ujungnya hanya nonton lewat layar hp, mending nonton dari orang yang ngelive aja. Nggak perlu capek-capek keluar rumah.
"Tapi, ah, sudahlah, setiap orang bebas menentukan pilihannya masing-masing. Bodo amat dengan orang lain.", ucap saya saat itu sambil lanjut nonton video ASMR membersihkan kotoran telinga di Facebook.